Minggu, 12 April 2009

Ketika UN Menjadi Kendala

Setiap orang pasti punya keinginan atau impian. Tidak peduli siapa orang itu, dari strata mana orang itu berasal, apa latar belakang pendidikannya dan dimana pun mereka berada, yang pasti dia pasti memiliki angan-angan dan keinginan atau impian yang ingin diraihnya.

Tapi pernahkah anda merasakan impian anda putus di tengah jalan padahal impian tersebut sudah ada di depan mata anda. Menyesal, pasti itu yang anda rasakan. Atau menyesakkan dada, itu lebih parah lagi. Ini terjadi pada seseorang yang tengah mengejar impiannya, sudah berada di tengah perjalanan dan tiba-tiba di paksa untuk berhenti dengan alasan dia harus fokus pada ujian nasional atau UN yang harus dijalaninya. Fokus, mengingat UN membutuhkan daya dan upaya yang begitu besar dan total. Sehingga untuk membagi waktu bagi pengejaran mimpi untuk sementara harus dihentikan.

Mengapa UN menjadi begitu sangat pentingnya di negara ini? Seberapa pentingnyakah UN bagi kehdiupan seseorang yang sedang mengejar mimpi? Apakah dengan ada UN negara ini bisa maju?

Apapun jawabanya yang jelas UN telah meneggelamkan impian anak tersebut. Belum lagi perilaku gurunya yang enggan memberinya izin untuk mengejar impianya tersebut. Guru di sekolah masih sering tidak melihat potensi siswanya secara jujur dan sabar. Guru di sekolah masih sering melihat rendah atau meremehkan siswanya. Terlebih dengan siswa yang memang memiliki kondisi akademis yang kurang baik. Padahal keberhasilan hidup tidak saka dan tidak hanya bergantung kepada cacatan nilai akademik semata. Ok, anak itu fokus pada UN tapi apabila anak itu tidak lulus apakah pihak sekolah akan bertanggung jawab karena telah merebut impian anak itu?. Saya pikir sekolah akan semakin meremehkan anak itu. Padahal pihak sekolahlah yang seharusnya bertanggung jawab dan bukan malah meremehkan anak itu.

Pihak sekolah terkadang menyuruh anak anaknya belajar dan belajar. Ingat jaman sekarang yang paling di butuhkan adalah skill. Lulusan S1 pun belum tentu dapat kerja. Tapi ad lulusan SMA langsung dapat kerja, bahkan belum lulus saja sudah di buking orang untuk bekerja di tempatnya. Kenapa bisa gitu ya? Padahal lebih pitar lulusan S1 dari pada lulusan SMA apalagi yang belum lulus SMA. Tapi yang SMA bisa langsung kerja gajinya pun sama dengan orang yang lulusan S1. Dia bisa main bulu tangkis langsung di buking buat kerja. Kalau kita berprestasi kerja akan mencari kita bukan kita nyari kerja. Yang penting Skill bukan pintar atau enggaknya. Artinya anak itu tidak lulus UN tapi bisa saja anak itu lebih sukses dari pada guru guru yang ada di sekolah itu.

Anak yang rangking satu pun itu bukan jaminan untuk menjadi orang yang sukses nantinya. Murid murid sekarang saja pergi ke sekolah bukan mencari ilmu melainkan hanyalah sebuah nilai. Sangat menyedihkanya bangsa ini. Pantas saja orang bule datang ke sini menjadi majikan tapi kalau dari sini ke sana hanya menjadi pembantu. Apa itu impian kita ?. Harusnya sekolah mencari apa sebenarnya bakat murid muridnya dan memberinya motivasi agar murid muridnya itu terus fokus pada impianya tesebut. Bukan malah mengubur impian murid muridnya apalagi meremehkan murid muridnya. Apa sebenarnya yang di harapkan guru guru tersebut kalau murid muridnya saja tidak mempunyai impian hanya mengikuti air mengalir biarpun keruh tidak apa apa gak masalah. Kalo tuh air ngalirnya ke laut sih masih mending, tapi kalo ngalirnya ke sapitank gimana?. Andalah sebagai gurunya yang akan malu nantinya. Tapi kalau murid muridnya sukses anda juga ikut bahagia nantinya.

Mari bapak ibu sekalian kita ubahlah paradigma kita yang hanya memandang orang pintar itu adalah orang yang sukses nantinya. Orang yang sukses adalah orang yang mempengaruhi lingkungan sekitar dan punya impian yang kuat itulah orang yang sukses nantinya. Kalau anda memang punya murid yang seperti itu selamat terus memberi beri anak itu motivasi di saat ia sedang down. Asalkan anda tidak mengubur impianya saja dia akan sukses nantinya.

Ikhwan A. Rahman: Siswa SMA Kelas XII, di Jakarta